Dorong UMKM Naik Kelas, SKK Migas – MontD’Or Oil Tungkal Ltd Fasilitasi Alat dan Bimtek Membatik Kader PKK Mengupeh

oleh -27 Dilihat

Jambioke.com — SKK Migas – MontD’Or Oil Tungkal Limited (MOTL) menyalurkan bantuan peralatan membatik, sekaligus menggelar Bimbingan Teknis (BIMTEK) bagi pelaku usaha lokal. Program pemberdayaan ini menyasar UMKM Perajin Batik Lipe Mengupeh Jaya dan Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Desa Mengupeh.

Kegiatan tersebut berlangsung pada Rabu, 15 Juli 2026, di sanggar batik yang letaknya berdampingan langsung dengan Kantor Desa Mengupeh, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo.

Bantuan ini diserahkan demi menyokong kemandirian ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan. Komitmen tersebut menjadi bagian integral dari tanggung jawab sosial korporasi yang berkelanjutan.

Rahmat Hidayat selaku PR & Community Development yang mewakili Stakeholder Relation Koordinator SKK Migas – MontD’Or Oil Tungkal Ltd, Dicky Irawan, memaparkan visi di balik program tersebut. Menurutnya, keberhasilan usaha tidak hanya diukur dari kinerja operasional semata.

“SKK Migas – MontD’Or Oil Tungkal Limited meyakini bahwa keberhasilan kegiatan usaha tidak hanya diukur dari aspek operasional, tapi juga dari kontribusi nyata meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasi. Melalui Program Pengembangan Masyarakat/Tanggung Jawab Sosial (PPM/TJS), kami terus berupaya mendukung pemberdayaan masyarakat, penguatan kapasitas pelaku UMKM, serta pengembangan potensi ekonomi lokal yang berkelanjutan,” kata Rahmat.

Program jangka panjang ini dirancang secara terstruktur untuk mengoptimalkan potensi lokal yang ada. Fokus utamanya adalah melahirkan kelompok usaha yang tangguh dan memiliki daya saing tinggi.

“Untuk mendukung penguatan dan keberlanjutan Batik Lipe Jaya sebagai salah satu usaha berbasis masyarakat, program PPM/TJS diarahkan pada pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan kapasitas pengrajin batik, penguatan kelembagaan usaha, serta pengembangan UMKM lokal guna mewujudkan usaha yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan,” tambah Rahmat.

Dukungan nyata dari SKK Migas – MontD’Or Oil Tungkal Ltd diwujudkan lewat penyediaan berbagai sarana produksi yang sangat lengkap. Peralatan tersebut diharapkan dapat langsung meningkatkan produktivitas serta efisiensi kerja para perajin.

Adapun rincian bantuan alat yang diserahkan meliputi meja cap, kompor besar, kompor kecil, loyang cetak batik, malam (lilin batik), kain mori, dan pewarna batik. Selain itu, diserahkan pula gawangan atau meja jemuran batik, bantal meja cap batik, angsang, serak kasar/halus, komplong, gunting kain, celemek kerja, sarung tangan karet, kuas, taplak, dandang/drum, cetakan batik, baskom hitam besar, meja loyang, serta canting batik.

Agenda pelatihan teknis ini dibimbing langsung oleh dua orang narasumber yang kompeten di bidangnya. Sebanyak 10 orang kader perempuan dari TP PKK Desa Mengupeh hadir sebagai peserta aktif dalam pelatihan tersebut.

Sejumlah tokoh penting turut menghadiri prosesi serah terima bantuan dan pembukaan kegiatan bimtek ini. Di antaranya Camat Tengah Ilir Ansori, Kepala Desa Mengupeh Al Jufri beserta seluruh perangkat dan staf kantor desa.

Hadir pula unsur pengamanan wilayah dari Babinsa dan Bhabinkamtibmas setempat untuk mendukung kelancaran acara. Pertemuan ini juga dihadiri oleh pengurus TP PKK Desa Mengupeh serta jajaran.

Apresiasi mendalam disampaikan oleh pihak pemerintah kecamatan atas inisiatif dan kepedulian yang ditunjukkan oleh perusahaan. Program ini dinilai sangat relevan dengan kebutuhan riil masyarakat di tingkat desa.

Camat Tengah Ilir, Ansori mengucapkan terima kasih kepada SKK Migas – MontD’Or Oil Tungkal Ltd yang telah melaksanakan program pelatihan membatik di Desa Mengupeh. Ia menaruh harapan besar program ini dapat melahirkan produk unggulan baru yang khas dari wilayah tersebut.

“Saya berharap kegiatan ini betul-betul menyentuh masyarakat dan berkembang, sehingga UMKM-UMKM nanti bisa memproduksi batik yang dapat menjadi produk unggulan di Kecamatan Tengah Ilir,” ujar Ansori.

Ansori juga memaparkan kondisi historis perkembangan kerajinan lokal ini yang dinilai masih memerlukan dorongan luar. Kehadiran pihak swasta sebagai mitra pendamping diharapkan mampu menjadi katalisator pertumbuhan usaha.

“Semoga batik ini nanti diminati masyarakat, khususnya di Kecamatan Tengah Ilir, umumnya Kabupaten Tebo. Batik Lipe ini sudah lama ada, namun belum begitu berkembang. Harapan kami dengan adanya bapak angkat dari Montd’or, lebih berkembang lagi ke depannya. Ibu-ibu yang dilatih ini bisa memproduksi batik, sehingga nanti diminati masyarakat luas,” harapnya.

Pemerintah kecamatan menginginkan hubungan kemitraan ini terus berlanjut ke berbagai sektor pembangunan lainnya. Terlebih, momentum promosi berskala provinsi sudah di depan mata.

“Harapan kami pada SKK Migas – MontD’Or Oil Tungkal Ltd bukan hanya pelaksanaan bimtek ini saja. Nanti mungkin ada support lain yang diberikan kepada masyarakat Kecamatan Tengah Ilir, terutama Desa Mengupeh,” ungkap Ansori.

Ansori menjelaskan, dalam waktu dekat ada program istri Wakil Bupati Tebo selaku Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Tebo, pada ulang tahun Kabupaten Tebo bulan Oktober, semua camat dan istri wajib mengikuti parade batik di Provinsi Jambi.

Pihak kecamatan berkomitmen penuh untuk mengampanyekan karya lokal ini pada ajang bergengsi tersebut. Langkah ini dinilai efektif untuk memperluas jangkauan pasar Batik Lipe.

“Insyaallah kami akan memakai produk UMKM Desa Mengupeh, yaitu Batik Lipe yang akan kami promosikan. Akan kami pakai waktu parade batik di Provinsi Jambi nanti,” tegas Ansori.

Senada dengan Camat, Kepala Desa Mengupeh, Al Jufri, juga melontarkan ucapan terima kasih mendalam atas kolaborasi yang terbangun. Baginya, kemitraan ini merupakan langkah maju bagi eksistensi perajin di desanya.

Al Jufri juga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada SKK Migas – MontD’Or Oil Tungkal Ltd, yang telah bermitra dengan Pemerintahan Desa Mengupeh dan UMKM juga perajin Batik Lipe.

Al Jufri menceritakan sejarah awal mula tercetusnya ide pembuatan batik khas tersebut. Sebenarnya Batik Lipe ini sudah lama diciptakan. Sejarah Batik Lipe ini, lipe itu adalah daun untuk atap pondok.

“Sudah ada dari nenek moyang dan orang tua-tua sebelumnya. Juga ada sungainya,” kenang Al Jufri.

Inisiatif pengembangan kerajinan ini mulai diseriusi sejak Al Jufri menjabat pimpinan Desa Mengupeh. Langkah awal pembinaan kader perajin tersebut sebelumnya bertumpu pada pos anggaran pendapatan dan belanja desa.

“Setelah saya menjadi Pj Kepala Desa Mengupeh, terciptalah ide membentuk perajin batik. Awalnya perajin batik ini memakai dana anggaran desa dulu,” tuturnya.

Keterbatasan anggaran memaksa pemerintah desa untuk mencari alternatif sumber pendanaan lain yang potensial. Hubungan baik yang telah terjalin lama dengan pihak MontD’Or akhirnya membuahkan hasil positif.

“Karena efisiensi, kami coba menyurati pihak MontD’Or, karena kami kenal sudah lama. Alhamdulillah ada tanggapan, maka bimbingan teknis ini terlaksana,” ungkap Al Jufri.

Respons cepat dari manajemen perusahaan di Jakarta menjadi pemantik semangat bagi pemerintah desa. Cenderamata khas Desa Mengupeh itu habis terjual, menjadi bukti awal bahwa produk mereka memiliki nilai jual tinggi.

“Sebelum kami menyurati MontD’Or, kami didatangi Pimpinan MontD’Or dari Jakarta. Kebetulan kami punya cenderamata batik. Kalau nggak salah hampir 20 lembar habis diborong. Nah, dengan dasar itu, saya berpikir ke depan, saya gali potensi ibu-ibu Desa Mengupeh untuk membatik, karena dasarnya sudah ada,” tambah Al Jufri.

Sinergi yang kuat antara seluruh elemen di tingkat kecamatan dan desa menjadi modal utama program ini. Kerja sama perdana dengan pihak MontD’Or diharapkan dapat terus meluas hingga ke level regional.

“Kami sepakat dengan Camat Tengah Ilir beserta kolaborasi dengan Babin dan bhabinkamtibmas, bapak angkat kami datang untuk melatih ibu-ibu kader PKK Desa Mengupeh,” ungkap Al Jufri.

Pemerintah desa memiliki visi besar untuk membawa produk lokal ini bersaing di pasar lebih luas. Mereka bahkan telah menyusun target khusus yang dituangkan dalam nota kesepahaman formal.

“Kerja sama ini yang perdana. Untuk batik dengan MontD’Or. Harapan kami tidak sampai sebatas ini. Terus berkolaborasi ke provinsi. Tergantung dari bagusnya motif dan kolaborasi oleh tenaga bimteknya,” papar Al Jufri optimis.

Inovasi produk tidak akan berhenti pada lembaran kain batik tradisional saja. Rencana diversifikasi produk ke berbagai bentuk suvenir fungsional lainnya kini tengah dipersiapkan.

“Kami punya target, ke depan akan bersaing dengan batik-batik lain,” tegasnya.

Pihak desa juga akan terus mendorong keterlibatan aktif dari perusahaan mitra sebagai bapak angkat program. Pembangunan infrastruktur fisik berupa gerai penjualan menjadi target prioritas mereka selanjutnya.

Dari sisi teknis, materi pelatihan difokuskan pada pengayaan dan pengembangan motif yang sudah ada sebelumnya. Pemateri mengombinasikan teknik tradisional dengan pendekatan modern yang lebih efisien.

Pemateri, Upkha Arkya Satria Pradana dari usaha Batik Tebo Riski Danang memaparkan metode pengajaran yang diterapkannya kepada para peserta. Ia berusaha mengembangkan batik yang sebelumnya sudah pernah ada, motif Lipe. Motif Lipe akan dikembangkan untuk bisa diproduksi, dipasarkan ke daerah-daerah, dan dipamerkan ke kabupaten-kabupaten,” kata Upkha yang akrab disapa Danang.

Proses produksi yang diajarkan menggabungkan dua teknik utama dalam dunia perbatikan nasional. Kombinasi pola baru ini sengaja diciptakan untuk memberikan karakteristik unik pada hasil akhir kain.

“Yang diajarkan sekarang itu ada proses batik cap dan batik tulis. Tekniknya dan bahan-bahannya. Tekniknya kami kombinasi dari batik cap Tebo dengan motif kecamatan sini,” rinci Danang.

Metode penataan pola juga mengalami pembaruan yang signifikan agar terlihat lebih rapi dan bernilai estetika tinggi. Penggunaan bahan pewarna berkualitas dipilih untuk menjamin mutu produk.

“Iitu pola baru. Jadi teknik sebelumnya acak-acak. Sekarang tekniknya batik cap tapi dikolaborasi dengan motif yang sudah ada. Itu yang kami matangkan,” jelas Danang.

Pemilihan jenis zat pewarna tertentu terbukti mempermudah proses pengerjaan bagi para perajin pemula. Danang mengapresiasi antusiasme tinggi yang ditunjukkan oleh para ibu peserta pelatihan.

“Untuk bahan baku kami pakai pewarna khusus, Remasol. Warnanya lebih tajam, lebih bagus. Proses pembuatannya lebih simpel pengerjaannya,” terangnya.

Danang optimis usaha kerajinan ini memiliki masa depan yang cerah dan berkelanjutan. Formula bisnis yang diajarkannya dirancang agar para pelaku usaha mikro dapat memperoleh keuntungan dengan cepat.

“Alhamdulillah sangat semangat ibu-ibu di sini. Terus ada inovasi baru, peluang mereka terbuka lagi. Membatik sekarang lebih gampang dan simpel, tidak terlalu ribet,” puji Danang.

Kemudahan proses produksi dan kecepatan pemasaran menjadi kunci utama dalam strategi pembinaan kali ini. Danang membagikan rahasia suksesnya yang merangkum berbagai teknik dari pusat-pusat batik di Jawa.

“Prospek ke depan insyaallah tetap berjalan. Bisa maju, karena teknik yang saya ajarkan sekarang ini bagaimana bisa balik modal. Lebih cepat prosesnya. Lebih cepat pemasarannya,” paparnya.

Perjalanan karier Danang di dunia perbatikan juga dimulai dari bawah dengan mempelajari berbagai karakter khas daerah. Pengalaman empiris itulah yang kini ia tularkan kepada para perajin di Kabupaten Tebo.

Respons positif dan rasa syukur mengalir deras dari para peserta pelatihan yang merasakan manfaat langsung. Mereka berharap keterampilan baru ini dapat meningkatkan perekonomian keluarga masing-masing.

Peserta bimtek, Intan, menyampaikan apresiasi mendalam atas kepedulian SKK Migas – MontD’Or Oil Tungkal Ltd terhadap perekonomian warga. Ia menaruh harapan besar program pemberdayaan ini mampu mendongkrak kesejahteraan hidup masyarakat Desa Mengupeh.

“Kami mengucapkan terima kasih banyak atas diadakannya kegiatan membatik ini. Kami berharap hasilnya bisa menambah pendapatan keluarga, dan menyejahterakan masyarakat Desa Mengupeh,” tutur Intan.

 

Kader PKK Desa Mengupeh ini mengaku materi pelatihan yang diberikan sangat aplikatif bagi para perajin pemula. Fokus utama pengajaran kali ini terletak pada visualisasi kearifan lokal ke dalam motif kain.

“Kalau materi yang diajarkan sekarang ini tata cara membatik, mencetak, mewarnai, dan pembuatan pola. Pembuatan pola lebih diutamakan. Pola gambarnya nanti dituangkan dalam model batik. Nanti itulah yang menjadi ikon batik Desa Mengupeh,” jelas Intan.

Intan merasakan adanya perbedaan kualitas pembekalan yang signifikan pada program kemitraan kali ini. Kalau yang kemarin cuma sekadar bentuk polanya saja. Kalau sekarang lebih mendalam dan lengkap.

Pengalaman serupa juga dirasakan Marlina Mutiara, sesama kader perempuan yang baru pertama kali bergabung dalam pelatihan. Ia turut melayangkan rasa terima kasih kepada pemerintah desa serta manajemen perusahaan migas tersebut.

Baginya, pendampingan dari nol ini memberikan pemahaman taktis mengenai peluang usaha baru.

“Terima kasih untuk kegiatan membatik ini. Kami yang belum mengerti tentang membatik, akhirnya bisa belajar dan bisa untuk menambah pendapatan,” ungkap Marlina.

Marlina menjelaskan, ia dan kelompoknya merupakan bagian dari rombongan baru yang dikader untuk menjadi perajin penerus. Pendampingan langsung oleh instruktur sejak tahap awal sangat membantu mereka memahami kerumitan proses membatik.

“Kalau rombongan kami ini baru. Jadi, untuk mengikuti kegiatan membatik ini baru pertama kali,” terang Marlina.

Proses transformasi dari selembar kain putih polos menjadi kain bermotif indah bernilai tinggi memberikan kepuasan emosional tersendiri bagi para ibu. Marlina mengaku sangat terbantu dengan metode praktik langsung yang diterapkan selama kelas berlangsung.

Rasa bangga terpancar dari para kader yang kini telah memahami rantai nilai dari produksi kerajinan tradisional ini. Pengetahuan baru tersebut juga mengubah cara pandang mereka terhadap nilai ekonomis dari sebuah karya seni batik.

Kreativitas para peserta kini semakin terasah berkat teknik modifikasi warna dan pola yang diajarkan oleh pemateri. Ibu-ibu PKK Desa Mengupeh memendam impian, suatu hari nanti seluruh kader PKK dapat mengenakan busana hasil karya mandiri.

Kebebasan berekspresi dalam mendesain motif menjadi motivasi tambahan bagi komunitas perempuan di Desa Mengupeh. Mereka optimistis produk eksklusif yang dihasilkan nantinya mampu merepresentasikan keunikan desa secara luas.

Melalui pelatihan terarah ini, diharapkan Batik Lipe dikenal sebagai produk edisi terbatas yang dicari para kolektor. Keunikan motif inilah yang diproyeksikan menjadi komoditas unggulan Desa Mengupeh di masa depan.

No More Posts Available.

No more pages to load.